Ujian Nasional. Dua kata yang begitu sakral dan bisa merubah dunia. Paling tidak itulah yang dirasa oleh para siswa saat ini. Betapa tidak, UN akan menentukan seorang siswa lulus atau tidak lulus dan akan membuka jalan bagi masa depan. Memang itu tidak mutlak, tapi setidaknya keberadaan UN sangat mempengaruhi psikologi siswa. Penulis paham betul maksud diadakannya Ujian Nasional, yah salah satunya adalah untuk menciptakan SDM yang bermutu dan mampu bersaing di era modern yang segala sesuatunya serba sekaligus instan. Tujuan pemerintah yang seperti itu sangat layak kita dukung agar dunia pendidikan kita tidak semakin terpuruk. Berbicara mengenai UN, ada yang berbeda di tahun 2013 ini. Seperti diberitakan sebelumnya akan ada 20 paket soal dalam setiap ruang, akan tetapi beberapa hambatan mewarnai pelaksanaan UN tahun ini. Senter diberitakan di media ada kendala pendistribusian soal dan masalah percetakan soal. Entah ada indikasi kecurangan atau tidak, penulis rasa hal-hal seperti ini tidak perlu terjadi seandainya semua pihak bekerja sesuai pos dan tugasnya masing-masing dengan penuh tanggung jawab. Adanya keterlambatan, khususnya perihal pendistribusian soal ke seluruh Indonesia banyak berakibat buruk. Dari kondisi psikologis siswa yang drop akibat penundaan yang terjadi di beberapa kabupaten/kota, sampai indikasi kebocoran soalpun ikut mewarnai UN tahun ini. Banyak versi menyebut kebocoran ini sudah terjadi di mana-mana. Kebocoran seperti ini sebenarnya tidak hanya terjadi tahun ini saja, tahun-tahun sebelumnya juga kerap terjadi meskipun tidak kunjung ditindaklanjuti secara serius oleh pihak yang berwenang. Sangat disayangkan keberadaan hajat besar pemerintah ini banyak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Sempat terdengar kabar juga bahwa ada oknum guru yang ikut terlibat dalam bisnis pembodohan ini, meski tidak semuanya tahu dan terlibat. Secara moral, penulis dengan lantang bersuara bahwa penyebar bocoran ini adalah penghianat yang ingin membuat generasi bangsa menjadi bodoh. Hanya ada 2 kemungkinan pada yang namanya bocoran, salah dan benar. Kalau pas kebetulan bocoran yang beredar hanyalah ulah dari pihak yang iseng dan ternyata isinya salah, apa hendak dikata? Meskipun isinya benar, bocoran ini tidak memberikan rasa percaya diri dan membuat si pengguna tidak mau berpikir. Akibatnya sudah jelas, generasi yang tercipta bukan generasi berprestasi melainkan generasi yang sama sekali tidak akan mampu bersaing menghadapi kejamnya dunia sebab kelulusan itu bukan usaha dari berpikir sendiri. Berkaca dari hal-hal tersebut, sudah selayaknya pemerintah lebih serius menangani bidang pendidikan dan berani menindak pihak-pihak dan oknum-oknum yang terlibat dalam pembodohan dan hanya ingin mengambil keuntungan dari pelaksanaan UN ini.Perlu diingat dan kita sadari bahwa dunia pendidikan bukanlah ajang untuk mencari keuntungan. Bagi Guru-guru dan Sekolah-sekolah seluruh Indonesia mulailah dari sekarang untuk menerapkan moral dan kejujuran si setiap tindak tanduk dan perkataan. Akhirnya harapan penulis hanyalah pendidikan Indonesia yang maju dan terus maju..amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar